Tampilkan postingan dengan label TULISAN IBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN IBD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Melestarikan Budaya Indonesia


Sudah cukup budaya kita diakui oleh Negara – Negara lain, sekarang saatnya kita untuk menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Kebudayaan merupakan cermin dari suatu bangsa, dari kebudayaan suatu bangsa dapat dikenal oleh seluruh dunia, tinggal bagai mana kita melestarikan suatu kebudayaan yang kita miliki sekarang, jaman moderenisasi tidak harus menggilas kebudayaan yang sudah ada yang menjadi kebanggaan kita dari dulu tapi bagaimana jika tren moderenisasi yang harus mengikuti kebudayaan kita, itu yang harus dipikirkan bersama oleh semua pihak.

Indonesia sudah sangat dikenal dengan berbagi kebudayaan, karena Indonesia memiliki beragam suku yang juga memiliki beragam kebudayaan yang berbeda – beda dari setiap suku. Kebudayaan merupakan hasil karya seni yang indah dan mengagumkan, sesuatu yang dapat merangangsang panca indra dan dapat membuat kita takjub akan keindahan seni. Kebudayaan di Indonesia sangat beraneka ragam, hampir disetiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda. Di Indonesia kebudayaan dapat terbagi menjadi beberapa karya seni, seperti, Tarian, Pakaian adat, Makanan khas dan masih banyak lagi. Di Jakarta dihuni oleh penduduk yang mayoritas adalah orang betawi, orang betawi memiliki kesenian berupa seni tari, tari yang terkenal adalah tari Jaipong, tarian ini memmiliki keindahan dalam seni gerak yang sangat indah, tidak sembarang orang bisa melakukan tarian ini, gerakan tangan yang gemulai, gerakan kaki yang lincah dan berbagai macam gerakan yang dapat merangsang panca indra manusia, sehimgga menjadi takjub. Kebudayaan lain yang dimiliki oleh orang betawi adalah Makanan Khas, Makanan Khas betawi juga sangat banyak, ada dodol betawi ada Kerak telor dan masih banyak lagi. Dodol adalah makanan yang menyerupai kue khas orang china ( kue keranjang ) namun agak sedikit berbeda.

Di daerah jawa banyak dihuni oleh suku jawa, namun setiap daerah dijawa juga memiliki kebudayaan yang berbeda tapi agak mirip. Seperti seni tarian, pakaian adat dan makanan Khas daerah masing – masing. Di daerah Sumatra juga memiliki banyak kebudayaan pada setiap daerahnya, dan begitu juga di daerah – daerah di Indonesia lainnya. “Bagaimana usaha kita untuk melestarikan budaya di Indonesia?”, itulah yang harus sama – sama kita fikirkan dan harus kita lakukan, banyak kebudayaan kita yang diakui oleh Negara – Negara tetangga. “apakah kita rela?”, jawabannya tentu tidak, maka dari itu kita harus tetap melestarikan budaya kita. Janaganlah kita terlena dan mengikuti budaya luar, yakinlah dengan budaya kita sendiri dan jangan gengsi dengan budaya yang kita miliki. Pemuda – pemuda Indonesia adalah penerus dari kebudayaan Indonesia, jadi jangan tanamkan rasa gengsi pada diri kita, biasanya pemuda jaman sekarang sudah gengsi dengan kebudayaan yang kita miliki dan lebih suka mengikuti budaya orang lain.

Belakangan ini pemerintah sudah mulai gencar melakukan usaha agar kebudayaan kita dikenal oleh dunia luas, dan dapat diakui oleh seluruh dunia bahwa banyak kebudayaan yang Indonesia miliki, sekarang tinggal bagaimana kita sebagai orang Indonesia ikut membantu usaha yang telah dilakukan pemerintah, mari kita mulai menghargai kebudayaan kita, sebenarnya caranya tidak sulit, kita ikut memeriahkan pesta – pesta adat didaerah kita, kita memahami dan mendalami kesenian tari didaerah kita, kita mengenakan pakaian yang menjadi ciri khas daerah kita. Tidak perlu setiap hari kita lakukan, kita bisa melakukan disaat memperingati hari – hari peringatan kebudayaan, hari – hari nasional atau kapan saja kita mau. Belakangan ini kita gencar memperingati hari batik nasional, maka kita harus ikut memeriahkan peringatan ini, karena itu juga merupakan usaha untuk melestarikan budaya kita dan juga menghargai budaya kita. Maka kita mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Rabu, 11 April 2012

Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Bangsa

Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri . Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, dua puluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah.
Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa).
 Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion . Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia . Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.
Sumber : Wordpress.com

Rabu, 21 Maret 2012

Pembangunan Budaya Bangsa Melalui Generasi Pengganti

Selama ini kata-kata budaya sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi sungguh disayangkan kebanyakan dari masyarakat Indonesia hanya sebatas mengetahui kata-kata budaya, tanpa mengetahui isi dari keseluruhan budaya Indonesia. Bahkan sekarang ini banyak kita jumpai generasi-generasi muda, khususnya di perkotaan yang tidak mengenali budaya dari sukunya sendiri. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, yaitu ketika generasigenerasi muda ini sudah tidak mau tahu lagi tentang budayanya. Meskipun budayanya dicuri bangsa lain, meskipun budayanya diejek dan dihina bangsa lain dan meskipun budanya diinjnak-injak bangsa lain, hal ini tetap membuat mereka acuh tak acuh terhadap budayanya sendiri. dengan adanya hal yang demikian apakah kita akan diam saja? dan apakah pemerintah juga akan diam saja melihat hal yang seperti ini?
Memang kebanyakan dari masyarakat kita menganggap hal ini sebagai masalah yang sepele. Meskipun sebenarnya masalah ini tidak hanya terjadi pada generasi muda kita saja, tetapi juga pada masyarakat luas yang sebenarnya sudah tau tentang arti penting dari budaya itu sendiri. Inilah yang perlu kita kaji lebih dalam, mengapa orang yang tau tentang arti penting dari budaya, masih acuh tak acuh dengan budayanya?
Pembangunan budaya bangsa perlu dilakukan oleh pemerintah mengingat seberapa banyak budaya kita yang sudah mulai terlupakan oleh masyarakat kita sendiri dan diam-diam hal tersebut disadari oleh bangsa lain. Dan dengan terang-terangan mereka merampas budaya kita sendiri dari kita.
 awali dengan pembangunan budaya bangsa melalui generasi pengganti, sebagai langkah awal pemulihan kondisi budaya bangsa yang kini sedang mengalami kekritisan pengetahuan dimata rakyatnya sendiri. Pembangunan budaya dapat dilakukan secara bertahap, hal ini mengingat banyaknya budaya yang dimiliki oleh negara kita, sehingga memerlukan waktu untuk pemulihan dan pembangunan budaya secara total. Pembangunan budaya ini juga memerlukan dukungan dari seluruh warga negara Indonesia sebagai wujud kepedulian dan juga sebagai bentuk bahwa kita yang memiliki budaya Indonesia bukan orang lain juga bukan bangsa lain.
Jika tidak ingin dikatakan sebagai negara yang hanya dijadikan bahan cemoohan dan diinjak-injak oleh bangsa lain. Kini saatnya kita bangkit dengan kesungguhan hati bahwa negara kita adalah negara besar yang akan mampu berdiri dikaki kita sendiri, mampu menjadi negara maju dan tidak lagi menjadi negara berkembang. Kita tidak perlu minder, karena kita sangat kaya, kaya dengan apapun yang bisa dijadikan modal bagi kita untuk menjadi Negara maju. Kita tidak perlu takut dan malu untuk mengakui kekurangan dan kesalahan dari Negara kita sekarang. Karena dengan kita menyadari kekurangan dan kesalahan dalam negara kita, dari sana kita akan mengetahui mana yang akan kita ambil kedepan dan mana yang harus kita tinggalkan, termasuk korupsi adalah sesuatu yang harus dan sangat perlu kita tinggalkan. Kita tidak perlu takut mengakui bahwa saat ini memang negara kita adalah salah satu negara korup didunia. Karena itu memang benar, tapi kita harus ingat itu benar untuk saat ini. Salah satu tugas kita adalah menghentikan hal tersebut dan menghilangkanya sampai ke akar-akarnya. Supaya tidak ada budaya turun temurun dalam urusan korup. Generasi pengganti harus benarbenar steril dari yang namanya korupsi.
Meskipun untuk saat ini negara kita adalah salah satu negara korup yang ada didunia tetapi kita tidak perlu minder dengan negara lain, karena kita memiliki kemampuan dan peluang yang sangat besar untuk lepas dari yang namanya negara korup. Kunci kita berada pada generasi pengganti bangsa ini. Budaya untuk tidak korup sangat perlu diterapkan dan ditanamkan pada generasi pengganti kita. Hal ini juga perlu dukungan dari pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai hasil yang terbaik. Karena untuk menjadi Negara yang maju kita perlu bersatu seperti zaman kita dahulu. Hal yang paling penting untuk membangkitkan negara ini bukanlah seberapa cepat negara kita dipandang hebat oleh Negara lain, tetapi seberapa cepat kita menyadari bahwa kita mampu menjadi negara maju dan memiliki kekayaan budaya.

Budaya dan Konsep Diri

Konsep diri adalah organisasi dari persepsi-persepsi diri (Burns, 1979). Organisasi dari bagaimana kita mengenal, dan menilai diri kita sendiri. Suatu deskripsi mengenai siapa kita, mulai dari identitas fisik, sifat, hingga prinsip. Konsep diri adalah inti dari keberadaan (existence) dan secara naluriah tanpa disadari mempengaruhi setiap pikiran, perasaan dan perilaku individu tersebut.
Dua kontinum yang sering dilakukan untuk mempermudah studi mengenai konsep diri dalam lintas budaya adalah konstruk diri individual dan diri kolektif atau (independent construal of self dan interdependent construal of self).
1.      Diri Individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal, kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian, dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan.
Budaya dengan diri individu mendesain dan mengadakan seleksi untuk mendorong ngnya setianp anggota dengan anggota yang lain. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan. Disini nilai kesuksesan dan perasaan akan harga diri membentuk khas individualisme. Ketika individu sukses untuk melaksanakan tugas budaya, tidak tergantung pada orang lain, maka mereka lebih puas akan diri mereka dan harga diri merekan meningkat, hal iini dikarenakan berkat usaha keras dari individu tersebut karena mampu mampu menggapainya tanpa bantuan orang lain.
2.      Diri kolektif
Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sangat khas dengan ciri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain. Tugas normatif utama pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Individu diminta menyesuaikan dirinya dengan orang lain atau kelompok untuk mempu membaca dan memahami pikiran perasaan orang lain, bersimpati untuk menempati dan memainkan peran yang telah diberikan. Tugas normatif sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungan satu sama lain, sehingga diri (self) lebih fokus pada atribut eksternal termasuk kebutuhan dan harapan-harapannya.
Dalam konstruk diri kolektif, nilai keberhasilan dan harga diri apabila individu mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu fokus pada status keterikatan dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya.

Pemanfaatan Teknologi untuk Melestarikan Budaya dan Nilai Luhur Bangsa Indonesia

Indonesia, adalah bangsa yang kaya budaya. Terdiri dari berbagai macam suku dan etnik-etnik yang melahirkan budaya khas, unik dan berbeda. Tak ada satupun bangsa yang dapat mengalahkan banyaknya budaya yang kita punya, tak ada satupun bangsa yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya yang kita punya, tak ada satupun bangsa yang mampu menyamai adat-istiadat dan nilai luhur yang kita punya. Akan tetapi, kita sebagai generasi penerus bangsa seolah tak peduli dengan keragaman budaya dan nilai luhur bangsa sendiri. Kita lebih tertarik dengan adanya budaya luar yang cenderung terlihat lebih oke dan keren dalam pergaulan sehari-hari. Akibatnya kita seakan jauh dari budaya asli Indonesia dan dekat dengan budaya bangsa lain dan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup yang menurunkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bangsa kita sendiri. Seharusnya, kita bangga dengan keragaman budaya yang kita punya dan melestarikannya. Orang-orang luar negeri saja bila berkunjung ke Indonesia dapat tertarik dengan budaya yang kita miliki dan bahkan mempelajarinya. Maka tak heran bila banyak bangsa lain yang mengakui atau mengklaim budaya kita sebagai budaya miliknya. Sedangkan kita, khususnya generasi muda malah mengabaikan budaya-budaya sendiri. Contoh, misalnya; kita lebih senang memakai baju-baju impor ketimbang memakai batik yang merupakan bagian dari budaya kita sendiri, lebih senang dengan aliran musik luar negeri yang walaupun tak mengerti bahasanya ketimbang sekedar mempelajari angklung, gamelan, kecapi dan sebagainya. Padahal bangsa lain pun iri dengan budaya tersebut. Misalnya saja Angklung diklaim oleh Malaysia. Ini membuktikan bahwa Malaysia pun iri terhadap budaya asli yang kita miliki. Bahkan bukan hanya angklung, budaya lain seperti wayang kulit, tari pendet, reog ponorogo, kuda lumping dan lagu rasa sayange.
Di era yang serba modern ini, budaya dari luar sangat mudah masuk ke Indonesia dan mengancam kelunturan nasionalisme generasi muda. Untuk itu sebagai generasi penerus bangsa, kita harus senantiasa melestarikan budaya yang kita miliki. Caranya tidak harus setiap hari memakai batik, memakai kebaya, atau pakaian adat, atau selalu memainkan alat musik tradisional kapanpun dan dimanapun. Tapi kita juga dapat memberikan informasi tentang pentingnya budaya Indonesia serta mengajak teman-teman kita yang lain untuk menjaga kelestarian budaya Indonesia. Dengan adanya teknologi yang berkembang di era modern ini, kita dapat memanfaatkannya untuk berbagi informasi dan mengajak saudara/(i) kita untuk menjaga kelestarian budaya Indonesia tersebut dengan mudah dan efektif. Mengingat kemajuan teknologi informasi yang pesat dan dapat dikatakan ampuh untuk menyebarluaskan suatu informasi, maka tidak ada salahnya kita mencoba turut serta melestarikan budaya serta nilai luhur bangsa Indonesia melalui pemanfaatan teknologi, yakni teknologi informasi. Misalnya melalui facebook, twitter, kaskus, plurk atau situs jejaring sosial lainnya. Misalnya dengan meng-update status tentang ketertarikan kita atau informasi menarik tentang suatu kebudayaan atau menuliskannya dalam catatan di situs jejaring sosial tersebut. Kemudian melalui situs milik pribadi (blog) seperti yang disediakan blogger (blogspot), wordpress atau blog.com. dengan menggunakan bahasa sesuai yang enak dibaca serta gambar yang menarik kita membuat suatu informasi berupa artikel tentang kebudayaan Indonesia. Demikianlah beberapa contoh pemanfaatan teknologi yang dapat kita jadikan sebagai sarana atau media untuk turut serta dan mengajak teman-teman kita untuk menjaga kelestarian budaya dan nilai luhur bangsa Indonesia.

Dampak Kebudayaan Barat

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan kebudayaan barat merupakan salah satu kebudayaan yang berkembang karena dampak dari globalisasi.
Dewasa ini kebudayaan barat sedang naik daun, termasuk di negara kita Indonesia. Pada dasarnya,  kebudayaan barat banyak memberikan dampak positif dalam berbagai bidang. Akan tetapi, jika masuknya kebudayaan barat itu tidak kita saring atau kita terima secara mentah begitu saja  juga dapat memberikan dampak negatif dalam beberapa bidang kehidupan. Sekarang ini banyak hal - hal baru yang mengacu pada kebudayaan barat. Sedangkan kebudayaan tradisional sedikit demi sedikit mulai tereleminasi karena kalah popularitas dengan kebudayaan barat.
Dampak positif yang dapat kita ambil dari kebudayaan barat misalnya :
a)         Kemajuan teknologi mereka (orang - orang barat) yang sudah semakin maju dapat membantu kita memudahkan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari dengan bantuan alat-alat elektronik canggih yang mereka ciptakan.
b)         Dalam bidang politik, Negara barat cenderung  menggunakan system demokrasi.  Hal itu menginspirasikan pemerintahan Negara kita untuk mengunakan sitem pemerintahan yang terbuka dan demokratis.
c)         Dalam bidang sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir mereka yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa barat yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa.
Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan dari kebudayaan barat di antaranya:
a)         Generasi muda sekarang lebih suka meniru gaya orang-orang barat, misalnya trend mode berbusana. Anak muda zaman sekarang lebih suka menggunakan barang-barang eksport dan berbusana yang minim-minim sehingga menyebabkan kurangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri.
b)      Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
c)         Pergaulan masyarakat barat yang bebas mulai memengaruhi budaya Indonesia yang sebelumya lebih beradab. Kebebasan yang kelewat batas itu sebenarnya tidak cocok dengan nilai-nilai kebudayaan kita. Misalnya saja free sex yang sekarang ini marak terjadi di Negara kita. Padahal hal itu sangat bertentangan dengan kebudayaan kita yang menjunjung tinggi norma kesusilaan.
d)         Kurangnya rasa hormat tehadap orangtua  dan tidak peduli terhadap lingkungan juga merupakan dampak yang ditimbulkan dari kebudayaan barat yang menganut kebebasan sehingga mereka bertindak sesuka hatinya.

Peran Mahasiswa dalam Kebudayaan

Sebagai seorang mahasiswa yang aktif dan kreatif tentunya tidak ingin kebudayaan kita menjadi pudar bahkan lenyap karena pengaruh dari budaya-budaya luar.Mahasiswa memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi penerus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, pada mereka harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan negara bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural mahasiswa antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
Optimalisasi peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler. Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan menjadikan seni dan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian seni dan budaya daerah.
a.      Jalur Intrakurikuler
Untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah diperlukan adanya pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah. Tanpa adanya pemahaman yang baik terhadap hal itu, mustahil mahasiswa dapat menjalankan peran itu dengan baik.  Peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah dapat dilakukan melalui jalur intrakurikuler; artinya seni dan budaya daerah dijadikan sebagai salah satu substansi atau materi pembelajaran dalam satu mata kuliah atau dijadikan sebagai mata kuliah. Kemungkinan yang pertama dapat dilakukan melalui mata kuliah  Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) bagi mahasiswa program studi eksakta, dan Ilmu Budaya Dasar dan Antropologi Budaya bagi mahasiswa program studi ilmu sosial. Dalam dua mata kuliah itu terdapat beberapa pokok bahasan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah yaitu tentang manusia dan kebudayaan, manusia dan peradaban, dan manusia, sains teknologi, dan sen.Kemungkinan yang kedua tampaknya telah diakomodasi dalam kurikulum program studi-program studi yang termasuk dalam rumpun ilmu budaya seperti program studi di lingkungan Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya. Beberapa mata kuliah yang secara khusus dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap seni dan budaya daerah adalah Masyarakat dan Kesenian Indonesia, Manusia dan Kebudayaan Indonesia, dan Masyarakat dan Kebudayaan Pesisir. Melalui mata kuliah-mata kuliah itu, mahasiswa dapat diberi penugasan untuk melihat, memahami, mengapresiasi, mendokumentasi, dan membahas seni dan budaya daerah. Dengan kegiatan-kegiatan semacam itu pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daearah akan meningkat yang juga telah melakukan pelestarian.
Jalur intrakurikuler lainnya yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman bahkan mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa-mahasiswa yang telah mendapatkan pemahaman yang mencukupi terhadap seni dan budaya daerah dapat berkiprah langsung dalam pelestarian dan pengembangan seni dan budaya daerah. Kuliah Kerja Profesi (KKP) yang merupakan bentuk lain dari KKN di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro telah digunakan untuk berperan serta dalam pelestarian dan  pengembangan seni dan budaya daerah. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, khususnya yang berasal dari program studi Sejarah, dalam tiga tahun terakhir sebagian telah membantu merevitalisasi seni budaya yang tumbuh dan berkembang di Semarang, misalnya batik Semarang, arsitektur Semarang, dan membantu mempromosikan perkumpulan Wayang Orang Ngesthi Pandhawa.

b.      Jalur Ekstrakurikuler
Pembentukan dan pemanfaatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa (Daerah Lainnya) merupakan langkah lain yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Sehubungan dengan hal itu, pimpinan perguruan tinggi perlu mendorong pembentukan UKM Kesenian Daerah. Lembaga kemahasiswaan itu merupakan wahana yang sangat strategis untuk upaya-upaya tersebut, karena mereka adalah mahasiswa yang benar-benar berminat dan berbakat dalam bidang seni tradisi. Latihan-latihan secara rutin sebagai salah satu bentuk kegiatan UKM kesenian daerah (Jawa misalnya) yang pada gilirannya akan berujung pada pementasan atau pergelaran merupakan bentuk nyata dari pelestarian seni dan budaya daerah.
Forum - forum festival seni mahasiswa semacam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) merupakan wahana yang lain untuk pengoptimalan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
Sumber : http://isbdti.blog.uns.ac.id/2009/11/09/makalah-perubahan-kebudayaan-karena-pengaruh-dari-luar/